Samarinda adalah ibu kota Provinsi Kalimantan Timur dan salah satu kota terbesar di Pulau Kalimantan. Kota ini tumbuh di tepi Sungai Mahakam, sungai yang sejak lama menjadi urat nadi kehidupan masyarakat dari pedalaman hingga pesisir. Julukan "Kota Tepian" melekat karena hampir seluruh denyut kota berpusat di sepanjang tepian Mahakam: permukiman, pasar, pelabuhan, hingga kawasan pemerintahan.
Perjalanan Samarinda dari sebuah perkampungan kecil di tepi sungai menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan tidak berlangsung singkat. Ada kisah kedatangan perantau, masa kekuasaan kesultanan, periode kolonial, hingga gelombang ekonomi dari hasil hutan dan tambang yang membentuk wajah kota seperti sekarang.
Asal-Usul Nama dan Hari Jadi Kota Samarinda
Nama Samarinda memiliki beberapa tafsir. Karena tidak ada catatan tertulis tunggal dari abad ke-17, penelusuran asal-usul nama kota ini banyak bersandar pada tradisi lisan dan kajian sejarah lokal yang kemudian dirumuskan oleh pemerintah daerah.
Kisah 'Sama Rendah' dan Rombongan Bugis Wajo
Versi yang paling banyak dikutip mengaitkan nama Samarinda dengan kata 'sama rendah'. Kisahnya bermula dari kedatangan rombongan orang Bugis dari Wajo, Sulawesi Selatan, yang dipimpin La Mohang Daeng Mangkona. Rombongan itu menempuh perjalanan laut dan sungai, lalu meminta izin kepada Sultan Kutai untuk menetap di tepi Sungai Mahakam.
Dalam kesepakatan yang dikisahkan secara turun-temurun, kedua pihak bersedia hidup berdampingan secara setara, tidak ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain. Dari gagasan 'sama rendah' itulah nama Samarinda dipercaya berasal. Rombongan Bugis kemudian menetap di kawasan yang kini dikenal sebagai Samarinda Seberang, di sisi selatan Sungai Mahakam. Kawasan tersebut sampai sekarang masih dikenal sebagai salah satu titik awal tumbuhnya kota dan kental dengan warisan budaya Bugis.
Versi Lain dan Penetapan 21 Januari 1668
Selain versi 'sama rendah', ada pula penafsiran yang menghubungkan nama Samarinda dengan gambaran bentang alam tepi sungai yang tampak samar ketika dilihat dari kejauhan. Perbedaan tafsir semacam ini lazim dalam penelusuran toponimi daerah, terutama ketika sumber sezaman sangat terbatas.
Yang kemudian disepakati secara administratif adalah Hari Jadi Kota Samarinda, yang diperingati setiap 21 Januari dan merujuk pada tahun 1668, yakni masa kedatangan rombongan Bugis Wajo tersebut. Penetapan ini menjadi rujukan resmi pemerintah kota dalam memperingati usia Samarinda setiap tahun.
Di Bawah Naungan Kesultanan Kutai Kartanegara
Sebelum berdiri sebagai kota otonom, wilayah Samarinda merupakan bagian dari Kesultanan Kutai Kartanegara. Sungai Mahakam berperan sebagai jalur utama transportasi, perdagangan, dan komunikasi antara wilayah pesisir dan pedalaman. Perahu-perahu mengangkut hasil bumi, hasil hutan, serta barang dagangan dari satu kampung ke kampung lain.
Posisi di tepi sungai besar membuat Samarinda tumbuh sebagai simpul perdagangan. Permukiman berkembang mengikuti alur sungai, dengan pasar dan dermaga sederhana sebagai pusat kegiatan warga. Pola permukiman memanjang di tepian inilah yang sampai kini masih terlihat pada tata ruang kota.
Masa Kolonial dan Ekonomi Hasil Bumi
Batu bara, kayu, dan pelabuhan sungai
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Samarinda mulai berkembang lebih cepat sebagai pusat kegiatan ekonomi di Kalimantan Timur. Sejak akhir abad ke-19, kegiatan pertambangan batu bara dan penebangan kayu tumbuh di sekitar Samarinda serta kawasan hulu Mahakam. Kehadiran kegiatan ekonomi itu menarik pendatang dari berbagai daerah dan mempercepat pertumbuhan permukiman di tepi sungai.
Sungai Mahakam menjadi jalur pengangkutan utama sebelum jalan darat tersedia secara luas. Barang dan orang bergerak melalui sungai, sehingga dermaga dan pasar di tepian menjadi pusat keramaian. Warisan pola ini masih terasa hingga sekarang, ketika perahu ketinting dan kapal barang tetap melintas di Mahakam setiap hari.
Menjadi Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur
Setelah Indonesia merdeka, Samarinda memasuki babak baru. Melalui Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1956 tentang pembentukan daerah otonom provinsi di Kalimantan, Kalimantan Timur berdiri sebagai provinsi dan Samarinda ditetapkan sebagai ibu kotanya. Sejak itu, fungsi Samarinda berkembang dari kota dagang menjadi pusat pemerintahan.
Status kewilayahan Samarinda sebagai kota diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan. Seiring waktu, kota ini tumbuh menjadi pusat pelayanan publik, pendidikan, dan perdagangan bagi wilayah sekitarnya. Saat ini Samarinda terbagi menjadi sepuluh kecamatan dengan jumlah penduduk lebih dari 800 ribu jiwa berdasarkan Sensus Penduduk 2020, menjadikannya kota berpenduduk terbesar di Kalimantan Timur.
Perkembangan Kota dan Infrastruktur
Jembatan dan konektivitas dua tepian
Pertumbuhan Samarinda tidak lepas dari kebutuhan menghubungkan kedua sisi Sungai Mahakam. Jembatan Mahakam menjadi penghubung utama antara kawasan Samarinda Kota dan Samarinda Seberang, sekaligus salah satu ikon kota. Seiring meningkatnya arus lalu lintas, dibangun jembatan tambahan, antara lain Jembatan Mahakam Ulu, agar pergerakan warga dan barang antarwilayah lebih lancar.
Pembangunan jembatan mengubah wajah kota secara signifikan. Kawasan yang sebelumnya terpisah oleh sungai kini terhubung, membuka pertumbuhan permukiman dan pusat kegiatan ekonomi baru di sisi seberang. Namun, ketergantungan pada jembatan juga membuat kemacetan menjadi tantangan tersendiri pada jam-jam sibuk.
Bandara, pelabuhan, dan kawasan industri
Infrastruktur lain berkembang mengikuti kebutuhan kota. Bandar Udara Temindung yang lama digantikan oleh Bandar Udara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto yang lebih luas dan mampu melayani pesawat berkapasitas lebih besar. Di sektor logistik, Terminal Peti Kemas Palaran menjadi salah satu pintu keluar-masuk barang di Kalimantan Timur, memanfaatkan posisi Samarinda di jalur sungai menuju Selat Makassar.
Kawasan industri dan pergudangan tumbuh di beberapa titik kota, terutama di area yang dekat dengan sungai dan jalan utama. Perkembangan ini mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menuntut perencanaan tata ruang yang cermat agar tidak mengorbankan kawasan permukiman dan lingkungan.
Ekonomi, Budaya, dan Identitas Kota Tepian
Sarung Samarinda dan amplang
Identitas budaya Samarinda terbentuk dari perpaduan berbagai latar belakang suku dan budaya. Salah satu warisan yang paling dikenal adalah tenun Sarung Samarinda, yang dikerjakan pengrajin di kawasan Samarinda Seberang. Sarung ini dibuat dengan alat tenun tradisional dan memiliki motif khas yang diwariskan antar generasi.
Dari sisi kuliner, amplang menjadi oleh-oleh yang identik dengan Samarinda. Camilan ini dibuat dari ikan tenggiri yang diolah menjadi kerupuk bertekstur renyah. Selain amplang, hidangan berbahan ikan sungai dan laut menjadi bagian dari keseharian warga kota tepian.
Pendidikan dan ruang publik
Samarinda juga menjadi pusat pendidikan di Kalimantan Timur. Universitas Mulawarman yang berdiri pada 1962 menjadi salah satu perguruan tinggi utama di provinsi ini, didukung sejumlah kampus lain serta sekolah menengah dan vokasi. Kehadiran kampus-kampus tersebut menarik mahasiswa dari berbagai kabupaten di Kalimantan Timur dan daerah lain.
Di sisi ruang publik, Masjid Islamic Center Samarinda menjadi salah satu bangunan ikonik dengan menara yang menjulang di tepi Mahakam. Kawasan Taman Samarendah di pusat kota menjadi ruang terbuka hijau tempat warga berolahraga dan berkumpul. Keberadaan ruang publik semacam ini penting bagi kota yang padat dan terus tumbuh.
Tantangan dan Arah Pembangunan
Seperti kota besar lain di Indonesia, Samarinda menghadapi sejumlah tantangan. Banjir pada musim hujan masih menjadi persoalan yang berulang, terutama di kawasan yang dilintasi Sungai Karang Mumus dan anak-anak sungai lain. Pertumbuhan permukiman yang cepat, tekanan pada lahan, serta kebutuhan transportasi yang andal menjadi pekerjaan rumah bersama.
Dinamika baru juga muncul setelah pemerintah pusat memutuskan membangun Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur. Sebagai ibu kota provinsi, Samarinda berpeluang merasakan dampak dari peningkatan aktivitas ekonomi dan mobilitas di kawasan sekitar, sekaligus dituntut menyiapkan infrastruktur, sumber daya manusia, dan tata kelola kota yang lebih baik.
Penutup
Sejarah Samarinda menunjukkan bahwa kota ini tumbuh dari kesepakatan sederhana untuk hidup berdampingan di tepi Sungai Mahakam. Dari perkampungan Bugis di Samarinda Seberang, Samarinda berkembang menjadi ibu kota provinsi dengan lebih dari 800 ribu penduduk, jembatan-jembatan yang menghubungkan dua tepian, serta pelabuhan dan bandara yang menopang perekonomian.
Bagi warga dan pengunjung, memahami sejarah ini bukan sekadar mengenang masa lalu. Pemahaman tersebut menjadi dasar untuk menjaga identitas Kota Tepian sambil menghadapi tantangan pembangunan yang terus berubah.