Samarinda sering dijuluki Kota Tepian karena denyut kehidupannya tumbuh di sepanjang Sungai Mahakam. Sungai yang membelah Kalimantan Timur ini bukan sekadar jalur transportasi dan sumber air, melainkan juga lumbung bahan baku bagi dapur-dapur warga. Dari perairan Mahakam dan delta di hilirnya datang ikan, udang, dan kepiting; dari hulu datang rotan serta hasil hutan lain yang menghidupi kerajinan tangan. Kombinasi itulah yang membuat lanskap kuliner dan produk lokal Samarinda punya karakter yang sulit ditemukan di daerah lain.
Sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda juga berada relatif dekat dengan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Penajam Paser Utara. Posisi ini membuka peluang baru bagi pelaku usaha kuliner dan kerajinan, sekaligus menuntut mereka menjaga mutu dan konsistensi agar mampu bersaing di pasar yang makin luas.
Mahakam sebagai Lumbung Bahan Baku
Panjang Sungai Mahakam lebih dari 900 kilometer dan menjadikannya salah satu sungai terpanjang di Kalimantan. Di sepanjang alirannya hidup berbagai jenis ikan air tawar dan air payau yang menjadi bahan baku utama masakan Samarinda. Delta Mahakam di bagian hilir dikenal sebagai kawasan mangrove yang kaya akan kepiting, udang, dan kerang.
Ikan Tenggiri dan Amplang
Amplang adalah camilan yang paling identik dengan Samarinda. Camilan ini dibuat dari daging ikan yang dilumatkan, dicampur tepung tapioka dan bumbu, dibentuk kecil-kecil, lalu digoreng hingga renyah dan mengembang. Ikan tenggiri menjadi pilihan utama karena dagingnya putih, padat, dan beraroma gurih. Sebagian perajin juga memakai ikan gabus atau ikan laut lain yang tersedia di pasar.
Karena relatif tahan lama dan praktis dibawa, amplang menjelma menjadi oleh-oleh khas yang dijual di banyak toko di Samarinda. Variannya kini beragam, mulai dari amplang ikan tenggiri, udang, hingga kepiting. Perbedaan mutu umumnya terletak pada proporsi ikan, jenis minyak goreng, dan tingkat kekeringan setelah digoreng.
Udang Galah hingga Kepiting Delta Mahakam
Selain ikan, hasil perairan Mahakam yang menonjol adalah udang galah dan kepiting. Udang galah berukuran besar sering diolah dengan bumbu bawang putih, mentega, atau saus asam manis. Sementara kepiting dari kawasan delta diolah menjadi kepiting saus padang, kepiting rebus, hingga kepiting lada hitam yang banyak dijajakan rumah makan di kota.
Ketersediaan hasil perairan ini sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Penurunan kualitas air, alih fungsi lahan mangrove, dan tekanan penangkapan menjadi isu yang perlu terus diperhatikan agar pasokan bahan baku kuliner tetap berkelanjutan.
Hidangan yang Menjadi Penanda Kota
Nasi Kuning Samarinda
Nasi kuning Samarinda dimasak dengan kunyit dan santan sehingga berwarna kuning cerah dan beraroma gurih. Yang membedakannya dari nasi kuning daerah lain adalah pilihan lauknya. Di Samarinda, nasi kuning kerap disajikan bersama ikan bumbu kuning, ikan goreng, telur, sambal, dan taburan bawang goreng. Sebagian penjual menambahkan kerupuk dan lalapan segar.
Hidangan ini umumnya dijual pada pagi hari, baik di warung makan, kedai sederhana, maupun lapak kaki lima. Bagi warga, nasi kuning bukan hanya menu sarapan, tetapi juga sajian yang biasa hadir dalam acara syukuran dan pertemuan keluarga.
Sate Payau
Sate payau berbahan daging rusa merupakan salah satu hidangan yang lekat dengan Kalimantan Timur. Dagingnya dipotong kecil, ditusuk, lalu dibakar dengan bumbu kecap dan rempah. Tekstur daging rusa cenderung lebih padat dibanding daging sapi, sehingga membutuhkan teknik pemasakan yang tepat agar tidak alot. Tidak semua rumah makan di Samarinda menyediakan menu ini, dan keberadaannya lebih mudah ditemukan pada warung atau momen tertentu.
Juhu Singkah, Olahan Umbut Rotan
Juhu singkah adalah masakan berbahan umbut rotan muda. Dalam bahasa Dayak Ngaju, juhu merujuk pada masakan berkuah atau sayur, sedangkan singkah berarti rotan. Umbut rotan diiris, direbus untuk mengurangi rasa pahit, lalu dimasak dengan santan dan bumbu, sering kali ditambah ikan atau daging. Teksturnya renyah dengan rasa pahit tipis yang khas.
Hidangan ini memperlihatkan bagaimana masyarakat memanfaatkan hasil hutan bukan kayu. Rotan yang selama ini dikenal sebagai bahan baku mebel ternyata juga memiliki nilai sebagai bahan pangan.
Produk Lokal di Luar Kuliner
Sarung Samarinda
Sarung Samarinda adalah kain tenun ikat tradisional yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin. Prosesnya panjang: benang diikat dan dicelup warna sesuai motif, kemudian ditenun helai demi helai. Karena dikerjakan secara manual, satu lembar sarung bisa memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu, bergantung kerumitan motifnya.
Motifnya umumnya berupa garis, bentuk geometris, dan pola yang diwarisi dari generasi sebelumnya. Warna-warnanya cerah dan kontras. Sarung ini tidak hanya dipakai sebagai pakaian, tetapi juga sering diburu kolektor dan wisatawan sebagai suvenir bernilai budaya.
Kerajinan Rotan, Manik, dan Batik Bermotif Mahakam
Rotan dari pedalaman Kalimantan diolah menjadi kursi, keranjang, tempat tisu, hingga tas. Kerajinan manik-manik bergaya Dayak juga banyak ditemukan, mulai dari kalung, gelang, hingga hiasan dinding. Sementara itu, batik kontemporer di Samarinda mengangkat motif yang dekat dengan kota ini, salah satunya pesut Mahakam, mamalia air tawar yang menjadi ikon Kalimantan Timur dan populasinya kini berada dalam tekanan serius.
Membeli Langsung ke Perajin dan Pasar Tradisional
Bagi wisatawan, membeli produk lokal langsung di Samarinda memberi pengalaman tersendiri. Pasar tradisional seperti Pasar Pagi menyediakan aneka bahan segar, kue, dan camilan. Kawasan pertokoan dan pusat oleh-oleh di kota menawarkan amplang dalam berbagai kemasan, sarung tenun, hingga kerajinan tangan.
Membeli langsung dari perajin atau pedagang kecil umumnya membuat harga lebih bersaing dan memungkinkan pembeli mengetahui asal bahan serta proses pembuatannya. Selain itu, transaksi semacam ini membantu perputaran ekonomi di tingkat akar rumput.
Peluang dan Tantangan UMKM Kuliner Samarinda
Sejumlah peluang terbuka bagi pelaku usaha kuliner dan kerajinan di Samarinda. Perdagangan daring memungkinkan amplang dan camilan kering menjangkau pembeli di luar Kalimantan tanpa khawatir rusak dalam perjalanan. Kedekatan dengan IKN juga berpotensi menambah permintaan, terutama untuk katering, suvenir, dan oleh-oleh.
Namun tantangannya tidak ringan. Konsistensi rasa, standar kebersihan, kemasan yang menarik, serta kesiapan administrasi usaha menjadi syarat agar produk bisa masuk ke pasar yang lebih besar. Sertifikasi seperti izin edar dan sertifikat halal sering menjadi pertimbangan utama pembeli, terutama untuk produk yang dipasarkan secara luas.
Di sisi lain, kenaikan harga bahan baku dan ketidakpastian pasokan hasil perairan menuntut pelaku usaha lebih lincah mengatur strategi. Diversifikasi produk, misalnya dengan mengolah bahan selain ikan tenggiri, bisa menjadi salah satu jalan keluar.
Menjaga Rasa, Merawat Cerita
Kuliner dan produk lokal Samarinda bukan sekadar komoditas. Di balik sepiring nasi kuning atau selembar sarung tenun, ada pengetahuan yang diwariskan turun-temurun tentang cara mengolah hasil alam dan membaca kondisi sungai. Menjaga keduanya berarti merawat identitas kota yang tumbuh di tepian Mahakam.
Bagi warga maupun pendatang, mencicipi dan membeli produk lokal adalah cara sederhana untuk ikut menjaga rantai usaha ini tetap hidup. Yang perlu diingat, kualitas dan keaslian tetap menjadi kunci: produk yang dibuat dengan bahan sungguhan dan proses yang benar akan selalu punya tempat di hati pembeli.