Samarinda, ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, tumbuh memanjang di sepanjang tepian Sungai Mahakam. Sungai itu bukan hanya bentang alam yang membelah kota, tetapi juga urat nadi yang membentuk pola permukiman, mata pencaharian, dan identitas budaya warganya. Dari situlah julukan Kota Tepian melekat, sebuah sebutan yang merangkum cara hidup masyarakat yang sejak lama beradaptasi dengan irama pasang surut air sungai.
Kota Tepian yang Tumbuh dari Sungai Mahakam
Sungai Mahakam merupakan salah satu sungai terpanjang di Indonesia. Alirannya membentang dari pedalaman Kalimantan hingga bermuara di Selat Makassar, dan Samarinda menjadi salah satu kota besar yang berdiri di bantaran hilirnya. Bagi warga, sungai ini berfungsi sekaligus sebagai jalur transportasi, sumber penghidupan, dan ruang publik.
Perahu ketinting, perahu kayu bermotor berukuran kecil, masih menjadi moda transportasi yang akrab bagi warga yang tinggal di Samarinda Seberang dan kawasan permukiman tepi sungai. Perahu itu mengangkut penumpang menyeberang, mengantar barang dagangan, hingga menjemput anak sekolah. Keberadaannya menunjukkan bahwa sungai belum sepenuhnya ditinggalkan meski jaringan jalan darat sudah berkembang pesat.
Permukiman di bantaran memperlihatkan adaptasi arsitektur terhadap pasang surut. Rumah-rumah panggung kayu berdiri di atas tiang, menghadap sungai, dengan dermaga kecil tempat perahu bersandar. Pola seperti ini sudah berlangsung lintas generasi dan menjadi bagian dari lanskap khas Samarinda.
Keberagaman Etnis dan Kehidupan Sosial Warga
Samarinda adalah kota yang dibentuk oleh perjumpaan berbagai kelompok etnis. Kawasan ini pernah berada dalam pengaruh Kesultanan Kutai Kartanegara, sehingga budaya Kutai menjadi salah satu akar tradisi lokal. Seiring waktu, pedagang dan pendatang dari Banjar, Bugis, Dayak, Jawa, serta berbagai daerah lain turut membentuk wajah kota.
Sejumlah penuturan sejarah lokal mengaitkan nama Samarinda dengan kisah masa lalu tentang kesetaraan antara kelompok pendatang Bugis dan Banjar yang membangun permukiman di kawasan tepian. Terlepas dari beragam versi cerita rakyat tersebut, yang jelas kota ini tumbuh sebagai ruang hidup bersama yang majemuk.
Kutai, Banjar, Bugis, dan Dayak
Keberagaman itu terlihat pada kehidupan sehari-hari: bahasa, kuliner, arsitektur, hingga tradisi keagamaan. Kawasan Samarinda Seberang secara historis dikenal sebagai permukiman komunitas Bugis, sementara sisi lain kota berkembang dengan pengaruh Banjar dan Kutai. Masyarakat Dayak, yang merupakan salah satu kelompok masyarakat asli Kalimantan, juga menjadi bagian dari mozaik sosial kota ini.
Pasar menjadi simpul pertemuan yang penting. Pasar Pagi Samarinda, salah satu pasar tradisional tertua dan tersibuk di kota, memperlihatkan bagaimana berbagai latar belakang bertemu setiap hari dalam transaksi jual beli.
Tradisi Menyirih dan Sirih Pinang
Dalam khazanah budaya Kalimantan, tradisi menyirih atau mengunyah sirih pinang masih dijumpai pada sejumlah upacara adat dan pertemuan keluarga. Sirih, pinang, kapur, dan gambir menjadi bahan yang biasa disiapkan dalam wadah khusus. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari tata krama pergaulan dan penghormatan kepada tamu.
Tenun Samarinda: Warisan dari Kampung Tenun
Salah satu warisan budaya paling khas dari Samarinda adalah kain tenun yang dikenal sebagai Sarung Samarinda. Sentra pembuatannya berada di kawasan yang memang dinamai Kampung Tenun, di Samarinda Seberang. Di sana, sebagian warga masih menenun dengan alat tenun bukan mesin (ATBM), meneruskan keterampilan yang diwarisi dari generasi sebelumnya.
Motif dan Proses Pembuatan
Sarung Samarinda umumnya dibuat dari benang sutra atau katun dengan motif yang disusun secara tradisional. Beberapa nama motif yang dikenal antara lain pucuk rebung dan tampuk manggis, di samping ragam hias lain yang khas. Proses pembuatannya memakan waktu karena dikerjakan helai demi helai, sehingga setiap lembar kain memiliki nilai kerja tangan yang tinggi.
Keberadaan Kampung Tenun menjadikan Samarinda salah satu daerah di Kalimantan Timur yang masih mempertahankan tradisi wastra secara aktif, bukan hanya sebagai benda koleksi museum.
Kuliner Harian Masyarakat Samarinda
Kehidupan kuliner Samarinda sangat dipengaruhi oleh posisinya sebagai kota pelabuhan dan perdagangan. Perpaduan budaya Kutai, Banjar, Bugis, dan Jawa terasa pada cita rasa masakan sehari-hari.
Nasi Kuning Samarinda
Nasi kuning adalah salah satu hidangan yang lekat dengan pagi hari di Samarinda. Nasi yang dimasak dengan kunyit ini disajikan bersama aneka lauk seperti telur, ayam, ikan, sambal, dan sayuran. Banyak warung nasi kuning yang sudah berjualan sejak dini hari dan menjadi bagian dari rutinitas warga sebelum beraktivitas.
Amplang
Amplang adalah camilan khas Kalimantan Timur yang dibuat dari olahan ikan, umumnya ikan tenggiri, yang dicampur tepung lalu digoreng hingga renyah. Samarinda dikenal sebagai salah satu daerah penghasil amplang, dan produk ini kerap menjadi oleh-oleh bagi pendatang. Selain amplang, aneka olahan ikan sungai dan laut juga mewarnai meja makan warga.
Ikon Kota dan Ruang Publik
Jembatan Mahakam
Untuk menghubungkan kawasan kota di sisi utara dan selatan Sungai Mahakam, dibangun sejumlah jembatan yang membentang di atas sungai. Jembatan-jembatan ini bukan hanya infrastruktur, tetapi juga penanda lanskap kota dan titik pandang favorit warga untuk menikmati pemandangan sungai, terutama pada pagi dan sore hari.
Islamic Center Samarinda
Islamic Center Samarinda merupakan salah satu bangunan ikonik di kota ini. Masjid dengan kubah besar dan menara yang menjulang itu menjadi penanda kawasan sekaligus tempat kegiatan keagamaan dan pendidikan. Kehadirannya memperlihatkan peran penting kehidupan beragama dalam keseharian masyarakat Samarinda.
Masjid Shiratal Mustaqiem
Di Samarinda Seberang terdapat Masjid Shiratal Mustaqiem, salah satu masjid tertua di Kalimantan Timur yang diperkirakan berdiri sejak akhir abad ke-19. Bangunannya bergaya tradisional dengan atap bertingkat dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Keberadaannya menjadi pengingat jejak awal perkembangan permukiman di tepian Mahakam.
Warisan yang Perlu Dijaga
Perubahan besar sedang berlangsung di Kalimantan Timur, terutama setelah penetapan ibu kota negara baru di wilayah provinsi ini. Samarinda sebagai kota penyangga tentu merasakan dampaknya, mulai dari pertumbuhan penduduk, tekanan pada lahan, hingga perubahan gaya hidup. Di tengah arus itu, warisan budaya seperti tenun, tradisi sungai, dan bangunan bersejarah menghadapi tantangan untuk tetap relevan.
Menjaga budaya Samarinda bukan berarti menolak perubahan. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan: pembangunan yang tetap memberi ruang bagi sungai sebagai bagian dari kehidupan warga, dukungan bagi perajin tenun agar keterampilan mereka tidak kehilangan penerus, serta perhatian pada cagar budaya. Dengan begitu, Kota Tepian dapat tumbuh tanpa kehilangan jati dirinya.